Sabtu, 12 Mei 2018

Artikel Jurnal Imiah


PENGARUH PENDIDIKAN DALAM MEMBENTUK KARAKTER ANAK

Arinal Muna Widiastuti

2021116192



Abstrak
Di dunia pendidikan yang seharusnya menjadi tauladan; selalu menjaga prinsi-prinsip moral, ternyata juga tidak sepi dari sorotan negatif. Itu  semua adalah pertanda, bahwa karakter bangsa ini, oleh sementara orang, sudah dianggap mulai mengakhawatirkan. Lebih terasa memprihatinkan lagi terjadinya kenakalan remaja di mana-mana, kasus-kasus penggunaan narkoba, seks bebas, video porno, tawuran dan lain-lain. Semua itu menjadikan betapa semakin sulitnya membangun karakter bangsa. Keadaan yang sekilas digambarkan itu menjadikan banyak pihak, lebih-lebih para pendidik, seperti yang berlangsung sekarang ini, merasa tergugah untuk melakukan upaya-upaya mencari bentuk, bagaiman mengembalikan jati diri bangsa yang dikenal sebagai berkarakter unggul tersebut.  Dalam mengembalikan kembali karakter melalui pendidikan pada anak harus ada peran oleh orang tua, guru, juga lingkungan yang dapat membentuk karakter sesuai dengan akhlak dan moral yang baik.
Kata kunci : Pendidikan, Karakter, anak,   orang tua

PENDAHULUAN

            Menurut Hill (2002) dalm buku Muslich menyatakan, pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga, masyarakat, dan bernegara membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan.
Pendidikan karakter memiliki tiga fungsi utama. Pertama, fungsi pembentukan dan pengembangan potensi. Pendidikan karakter berfungsi membentuk dan mengembangkan potensi didik agar berpikir baik, berhati baik dan berperilaku baik sesuai dengan falsafah hidup pancasila. Kedua, fungsi perbaikan dan penguatan. Pendidikan karakter berfungsi memperbaiki dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah yang ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera. Ketiga, fungsi penyaringan. Pendidikan karakter  berfungsi memilih budaya bansa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat. Ketiga fungsi ini dilakukan melalui: (1) pengukuhan pancasila sebagai falsafah dan ideologi negara, (2) pengukuhan nilai dan norma konstitusional UU 45, (3) penguatan komitmen kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), (4) penguata nilai-nilai keberagaman sesuai dengan konsepsi Bhineka Tunggal Ika, dan (5) penguatan keunggulan dan daya saing bangsa atau berkelanjutan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia dalam konteks global (Zubaedi , 2011:18).
Adapun kriteria pribadi yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakt atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.
Apakah pendidikan karakter merupakan hal baru dalam pendidikan di Indonesia? Jawabanya tidak. Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan merupakan upaya untuk menumbuhkan budi pekerti (karakter), pikiran (intelect) dan tubuh anak. Ketiganya tidak boleh dipisahkan,agar anak dapat tumbuh dengan sempurna. Jadi menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan karakter merupakan bagian penting yang tidsk boleh dipisahkan dalam isi pendidikan kita. 
Secara faktual, data realistik menunjukan bahwa moralitas maupun karakter bangsa saat ini telah runtuh. Runtuhnya moralitas karakter bangsa tersebut telah mengundang sebagai musibah dan bencana di negeri ini. Musibah dan bencana tersebut meluas pada ranah sosial-keagamaan, hukum, maupun politik.
Musibah sosial keagaman dapat diamati pada hilangnya etika kemanusiaan, sehingga penghormatan terhadap jabatan diangap lebih penting dari pada menghormati pribadi sebagai manusia; goncangan hukum dan politik dapat diamati pada kasus korupsi yang terjadi di setiap meja instansi, praktik money politik, skandal kasus Bank Century dan sebagainya; gelombang krisis ekonomi dapat diamati pada paradok negeri ini, dimana terdapat  kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, namun rakyatnya tetap miskin dan sengsara; “banjir bandang”menerjang dunia pendidikan berupa tawuran pelajar antar sekolah, kecurangan ketika ujian, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas dan sebagainya.
Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menyalurkan bahwa sumber dari musibah dan bencana yang telah meluluhlantarkan moralitas bangsa ini adalah terabaikanya pendidikan karakter. Kemendiknas menyadarkan argumenya tersebut pada sejarang bangsa-bangsa yang selalu mengedepankan karakter sebagai solusi berbagai persoalan yang menerpanya. Sekadar contoh, revelitasasi bangsa jerman dilakukan dengan pendidikan karakter dan spiritualitas setelah kekalahan perang dengan prancis. Jepang menata ulang negerinya menghadapi urbanisasi, disertai introduksi pendidikan moral.“Amerika pada akhir abad ini menghadapi krisis global dengan mengintroduksikan kembali pendidikan karakter” (Amin Abdullah, 2010).
Merujuk pada fakta-fakta  sejarah bangsa-bangsa tersebut Kemendiknas merencanakan gerakan nasional berupa pendidikan karakter (2010/2025) melalui keputusan pemerintah Republik Indonesia oleh Presiden Susilo Bamabang Yudhoyono pada tanggal 11 mei tahun 2010 tentang gerakan nasional pendidikan karakter. Gerakan nasional pendidikan karakter tersebut diharapkan mampu menjadi solusi atas rapuhnya gerakan bangsa selama ini.
Hal ini dimaksudkan sebagai sarana untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang berlandaskan empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD ‘45), Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhineka Tunggal Ika (Darmiyati Zuvhdi, 2011: xv).
Dalam pelaksanaanya, khususnya melalui jalur pendidikan, pembangunan karakter bangsa dilakukan melalui restruturisasi pendidikan yang  telah berlangsung sejak lama di semua jenjang pendidikan (SD/MI hingga SMA/MA/SMK) dengan nomenklatur baru yakni pendidikan karakter. Tujuanya adalah untuk mewujudkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pancasila, baik dalam pola pikir, pola rasa maupun pola perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
PEMBAHASAN
KONSEP DASAR PENDIDIKAN KARAKTER
            Pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk mewujudkan kebajikan, yaitu kualitas kemanusian yang baik secara objektif , bukan hanya baik untuk individu perseorangan, tetapi juga baik untuk  masyarakat secara keseluruhan.
            pendidikan karakter secara perinci memiliki tujuan, yakni: (1) mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa, (2) mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nila-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius, (3) menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangs, (4) mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan, (5) mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, dan dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).
            Pendidikan karakter memiliki tiga fungsi utama. Pertama, fungsi membentuk dan mengembangkan potensi. Pendidikan karakter berfungsi membentuk dan mengembangkan potensipeserta didik agar berpikir baik, berhati baik, dan berperilaku baik sesuai dengan falsafah hidup pancasila. Kedua, fungsi perbaikan dan penguatan. Pendidikan karakter berfungsi memperbaiki dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk ikut berpartipasi  dan tanggung jawab dalam pengembangan potensi warga negara  dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera. Ketiga, fungsi penyaringan.  Pendidikan karakter berfungsi memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat. Ketiga fungsi ini dilakukan melalui: (1) pengukuhan pancasila sebagai falsafah dan ideologi negara, (2) pengukuhan nilai dan norma konstitusional UUD 45, (3) penguatan komitmen kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), (4) penguatan nilai-nilai keberagaman sesuai dengan konsepsi Bhineka Tunggal Ika, dan (5) penguatan keunggulan dan daya saing bangsa untuk keberlanjutan kehidupan bermasyarakat, kebangsaan, dan bernegara Indonesia dalam konteks global.
            Pendidikan karakter sebagai bagian dari upaya membangun karakter bangsa mendesak untuk diterapkan. Pendidikan karakter menjadi vital dan tidak ada pilihan lagi untuk mewujudkan Indonesia baru, yaitu Indonesia yang dapat menghadapi tangtangan regional global. Diantara karakter yang perlu dibangun adalah karakter yang berkemampuan dan kebiasaan memberikan yang terbaik (giving the best) sebagai prestasi yang dijiwai oleh nilai-nilai kujujuran. Inti karakter adalah kejujuran. Karakter dasar seseorang adalah mulia. Namun, dalam proses perjalananya mengalami modifikasi atau metamorfosis, sehingga karakter dasarnya dapat hilang. Contohnya, hewan singa memiliki karakter dasar yang galak, tetapi karena mengalami proses modifikasi menjadi bagian dari pertunjukan sirkus, maka singa kehilangan kegalakanya.

STRATEGI PENDIDIK KARAKTER ANAK MELALUI DUNIA PENDIDIKAN
Hubungan Pendidikan Karakter Dengan Moral, Akhlak, dan Agama
Pandangan ketiga yang sering muncul dan terkesan paling dominan adalah bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan agama yang dituangkan dalam seluruh mata pelajaran. Namun demikian, penafsiran pendidikan karakter sebagai pendidikan agama yang dituangkan dalam berbagai mata pelajaran adalah sebuah pandangan yang sangat sempit.
Berkembangnya paradigma ini didasarkan atas asumsi bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan tentang akhlak mulia. Berbicara tentang akhlak mulia tentu saja berbicara tentang agama. Oleh karenanya, pendidikan karakter cukup dilakukan melalui pendidikan agama bukan pendidikan yang berlandaskan agama (Yunus Abidin. 2012 :50).
 Dengan diterapkan pendidikan agama dalam membentuk karakter anak, itu berarti sudah diterapkan pula karakter pendidikan dalam diri anak. Sebagai orang tua harus bisa menumbuhkan karakter yang baik pada anak se-dini mungkin, agar anak bisa terbiasa melakukan hal-hal yang baik. Karena orangtua tombak dari suatu pendidikan yang dapat mengajarkan hal-hal yang menjadi tujuan utama di dalam keluarga itu.
Karakter itu berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi positif , bukan netral. Jadi, orang berkarakter  adalah orang yang mempunyai kualitas moral (tertentu) positif. Dengan demikian, pendidikan adalah membangun karakter, yang secara implisit mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau yang baik, bukan yang negatif atau yang buruk (Masnur Muslich 2011: 71).
Pendidikan karakter secara esensial, yaitu untuk mengembangkan kecerdasan moral (building moral intelligence) atau mengembangkan kemampuan moral anak-anak. Cara menumbuhkan karakter yang baik dalam diri anak didik adalah kemampuan memahami hal yang benar dan yang salah, artinya memiliki keyakinan etika yang kuat dan bertindak berdasarkan keyakinan tersebut, sehingga orang bersikap benar dan terhormat. Kecerdasan yang sangat penting ini mencakup karakter-karakter utama, seperti kemampuan untuk memahami penderitaan orang lain dan bertindak jahat, mampu mengendalikan dorongan dan menunda pemuasan, mendengarkan  dari beragai pihak  sebelum memberikan penilain, menerima dan menghargai perbedaan, bisa memahami pilihan yang tidak etis, dapat berempati, memperjuangkan keadlilan, dan menunjukan kasih sayang dan rasa hormat terhadap orang lain. Ini merupakan sifat-sifat utama yang akan membentuk anak menjadi baik hati, berkarakter kuat, dan warga negara ynag baik. Inilah yang paling diharapkan dari anak-anak kita.
Meski penyebab merosotnya moralitas sangatlah kompleks, terhadap fakta yang tidak dapat dipungkiri. Lingkungan moral tempat anak-anak dibesarkan saat ini sangat meracuni kecerdasan moral mereka. Mengapa demikian? Pertama, sejumlah faktor kritis yang membentuk karakter bermoral secara perlahan mulai runtuh, yaitu : pengawasan orang tua, teladan perilaku bermoral, pendidikan spritual dan agama, hubungan akrab dengan orang dewasa, sekolah khusus, norma-norma nasional yang jelas, dukungan masyarakat, stabilitas, dan pola asuh yang benar. Kedua, anak-anak secara terus-menerus menerima masukan dari luar yang bertentangan dengan norma-norma yang tengahkita tumbuhkan. Kedua faktor ini berperan terhadap kerusakan moral anak-anak bersamaan dengan hilangnya kepolosan mereka.
Diakui bahwa pengaruh buruk secara nyata begitu melekat dalam budaya kita, sehingga hampir tidak mungkin menghindarkan anak-anak dari pengaruh tersebut. Kondisi inilah yang menjadi yang menjadi sebab mengapa membangun kecerdasan moral sangat penting dilakukan agar suara hati anak-anak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang salah, sehingga mereka dapat menangkis pengaruh buruk dari luar. Kecerdasan moral menjadi otot kuat yang diperlukan untuk melawan tekanan buruk dan membekali anak kemampuan bertindak benar tanpa bantuan orang lain.
Zubaedi (2011) mengatakan bahwa kecerdasan moral terbangun dari beberapa kabjikan utama yang membantu anak menghadapi tantangan dan tekanan etika yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan kelak. Kebajikan utama tersebutlah yang akan melindunginya agar tetap berada di jalan yang benar dan membantunya agar selalu bermoral dalam bertindak. Beriktu tujuh kebajikan utama yang akan menjaga sikap baik seumur hidup pada anak.
1.      Empati
Empati adalah memahami dan mersakan kekhawtiran orang lain.kebajiakan ini membuat anak menjadi peka terhadap kebutuhan dan persaan orang lain, mendorongnya menolong orang yang kesusahan atau kesakitan, serta menuntut anak memperlakukan orang dengan kasih sayang.
2.      Hati Nurani
Hati nurani dapat mengetahui dan menerapkan cara bertindak yang benar. Hati Nurani yang kuat adalah suara hati yang membantu kita membedakanhal yang benar dan hal yang salah yang merupakan landasan yang kuat bagi kehidupan kita yang baik, kehidupan kemasyarakatan yang baik, serta perilaku beretika.
3.      Kontrol Diri
Kontrol diri adalah mengendalikan pikiran dan tindakan agar dapat menahan dorongan dari dalam maupun dari luar sehingga dapat bertindak dengan benar. Kontrol diri dapat membantu anak mengendalkan perilaku mereka, sehingga mereka dapat bertindak benar berdasarkan pikiran dan hati nurani mereka.
4.      Rasa Hormat
Rasa hormat adalah menghargai orang lain dengan berperilaku baik dan sopan. Jika kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita mengharapkan orang lain memperlakukan kita, dunia ini akan menjadi lebih bermoral. Menumbuhkan rasa hormat juga perlu untuk membentuk warga negara yang baik dan berhubungan interpersonal yang positif, karena rasa hormat ini menuntut agar semua orang sama-sama dihargai dan dihormati.
5.      Kebaikan hati
Kebaikan hati yaitu menujukan kepedulian terhadap kesejahteraan dan perasaan orang lain. Satu hal yang pasti, jika kita tidak berbuat apa-apa, kita tidak bisa berharap anak-anak akan bersikap simpatik dan berbelas kasih di dunia yang penuh pesan-pesan buruk dan pesimis. Bahkan kita harus secara sadar berusaha keras mengganti pesan-pesan negatif ini denagn cara yang paling efektif, yaitu menumbuhkan kebajikan yang berupa kebaikan hati.
6.      Toleransi
Toleransi yaitu menghormati martabat dan hak semua orang meskipun keyakinan dan perilaku mereka berbeda dengan kita. Anak yang toleransi bisa menghargai orang lain meskipun berbeda pandangan dan keyakinan. Dengan kapasitas seperti itu, anak-anak tersebut tidak dapat menoleransi kekejaman, kefanatikan, dan rasialisme. Karena itu, tidak mengherankan jika mereka tumbuh menjadi manusia dewasa yang berusaha menjadikan dunia ini sebagai tempat yang manusiawi.
7.      Keadilan
Keadilan berwujud berpikir terbuka serta bertindak adil dan benar. Anak-anak yang mempunyai sifat ini dapat mematuhi aturan, bergiliran, berbagi, dan mendengarkan semua pihak secara terbuka sebelum memberi penilaian. Karena itulah mereka memegang etika. Kebajikan ini meningkatkan kepekaan anak terhadap persoalan moralitas, mereka bersemangat membela orang-orang yang di perlukan tidak adil dan menuntut agar orang-orang tersebut di perlakukan setara.
Pendidikan karakter juga bukan hanya sekedar pendidikan moral dan nilai. Pendidikan karakter mempunyai makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena bukan sekedar mengajarkan mana yang baik dan mana yang salah. Lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (dominan kognitif) tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan (dominan afektif ) nilai yang baik dan biasa melakukanya (dominan perilaku). Jadi, pendidikan karakter terkait erat kaitanya dengan kebiasaan yang terus-menerus di praktikan atau dilakukan (Kemendiknas, 2010a).
Bertemali dengan pendidikan nilai, pendidikan karakter mempercayai adanya keberadaan moral absolute, yakni bahwa moral absolute perlu diajarkan kepada generasi muda agar mereka paham betul mana yang baik dan benar. Karena sesungguhnya terdapat nilai moral universal yang bersifat absolute  (bukan bersifat relatif) yang bersumber dari agam-agama di dunia, yang disebut sebagai the golden rule. Oleh karenanya menyejajarkan pendidikan karakter dan pendidikan nilai ada sesuatu yang keliru. Pendidikan karakter lebih dari sekedar pendidikan agama, moral, dan nilai (Kemendiknas, 2010a).
Prinsip-Prinsip Penyusunan Materi Pendidikan Karakter
            Pendidikan karakter harus dimulai sejak lahir bahkan masih dalam kandungan melalui belaian kasih sayang ibu dan bapaknya. Pada masa bayi, penanaman pendidikan karakter dalam keluarga sangat penting. Nilai dan norma ditanamkan melalui contoh perilaku semua anggota keluarga. Kemudian memasuki empat tahun, anak mulai berkenalan dengan lingkungan bairu, yaitu lingkungan taman kanak-kanak atau pendidikan anak usia dini. Pada tahap ini, penanaman pendidikan karakter sangat penting. Para ahli psikologi menyebutkan sebagai masa emas (golden emas), karena usia ini sangat menentukan kemampuan memngembangkan potensi anak.
Sejalan dengan tumbuh kembangnya anak, pada lingkungan sekolah, penanaman pendidikan kararakter lebih kompleks. Anak-anak  dituntut belajar berperilaku dalam menghayati, mengamalkan nilai dan norma, dan akhlak mulia. Pembinaan karakter yang mudah dilakukan ketika anak-anak masih duduk di bangku SD. Itulah sebabnya pemerintah memprioritaskan pendidikan karakter di SD, bukan berarti pada jenjang lainya tidak mendapat perhatian, namun porsinya saja yang berbeda. Penanaman dan pembiasaan dalam menanamkan nilai-nilai luhur di lingkungan sekolah harus terintegrasi dalam proses pembelajaranpada setiap mata pelajaran. Pembiasaan dan menciptakan lingkungan yang kondusif  serta menjadi figur bagi peserta didik adalah pekerjaan yang tidak mudah.
Zubaedi  (2011) mengatakan bahwa Prinsip yang digunakan dalam pengembangan pendidikan karakte: 1) berkelanjutan: mengandung makna bahwa proses yang pengembangan nilai-nilai karakter merupakan proses yang tiada berhenti, dimulai dari awal peserta didik masuk sampai selesai dari suatu satuan pendidikan bahkan sampai terjun kemasyarakat; (2) melalui semua mata pelajaran  pengembangan diri dan budaya sekolah , serta muatan lokal ; (3) nilai tidak diajarkan tetapi dikembangkan dan dilaksanakan. Satu hal yang selalu diingat bahwa suatu aktivitas belajar dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik; dan (4)  proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan. Guru harus merencanakan kegiatan belajar yang menyebabkan peserta didik aktif merumuskan pertanyaan, mencari sumber informasi, dan mengumpulkan informasi dari sumber, mengolah informasi yang sudah dimiliki, dan menumbuhkan nilai-nilai budaya dan karakter pada diri mereka melalui berbagai kegiatan belajar yang terjadi di kelas, sekolah, dan tugas-tugas di luar sekolah.
Internalisasi Pendidikan Karakter Usia Dini 
            Menurut Irwanto (2002) dalam buku wibowo, masa-masa dominan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak itu di dalam keluarga. Fase tersebut mulai dari periode kanak-kanak akhir (late childhood), hingga periode dewasa awal (early adulthood). Pada fase ini, anak memiliki kecenderungan untuk mengikuti atau meniru tata-nialai dan prilaku di sekitarnya, pengambilan pola prilaku dan nilai-nilai baru, serta tumbuhnya idialisme untuk pemantapan identitas diri. Jika fase itu dilakukan proses penanaman nilai-nilai moralitas yang terangkum dalam pendidikan karakter secara sempurna, maka akan menjadi pondasi dasar sekaligus warna kepribadian anak ketika dewasa kelak.
Menurut Edi Waluyo (2007) dalam buku wibowo, pendidikan karakter terhadap anak hendaknya menjadikan mereka terbiasa untuk berperilaku baik; sehingga ketika seorang anak tidak melakukan kebiasaan baik itu, yang berasangkutann akan merasa bersalah. Dengan demikian, kebiasaan baik sudah menjadi semacam insting, yang secara otomatis akan membuat seorang anak merasa kuarng nyaman bila tidak melakuakan kebiasaan baik itu. Adapun strategi implememtasi pendidikan karakter yang ditawarkan oleh Edi Waluyo diantaaranya:
1.      Ciptakan suasana penuh denagn kasih sayang, mau menerima anak sebagaimana adanya, dan menghargai potensi yang dimiliki mereka.
2.      Gunakan metode pembiasaan. Misalnya, kebiasaan menolong teman yang kesusahan, menjenguk orang sakit, membuang sampah pada tempatnya, dan sebagainya. Pembiasan sebagaimana telah diuraikan, sekaligus menjadi ajang pembelajaran bagi anak dan berlangsung sampai mereka masuk SD. Setelah itu, berbagai sumber belajar, misalnya lingkungan atau pembiasaan baca buku, akan ikut membentuk karakter anak selain contoh-contoh dari guru dan orang tuanya.
3.      Membangun karakter pada anak hendaknya menjadikan mereka terbiasa untuk berperilaku baik. Jika anak sudah terbiasa melakukan kebiasaan baik, maka ketika mereka tidak melakukan kebiasaan itu akan timbul perasaan bersalah; dan tentu saja tidak akan mengulangi kelalaian itu.
Menurut Ratna Megawangi (2010) dalam buku wibowo, pendidikan karakter terhadap anak, sebaiknya disesuaikan dengan fase usianya, yaitu:
1.      Fase usia 0-3 tahun. Pada fase ini, peranan orang tua harus lebih besar karena landasan moral baru dibentuk pada umur ini. Selain itu, cinta dan kasih sayang dari orang tua sangat dibutuhkan oleh anak sepanjang fase ini.
2.      Fase 2-3 tahun. Pada fase ini anak sebaiknya sudah diperkenalkan pada sopan-santun, serta perbuatan baik dan buruk. Pada umumnya anak pada usia ini sudah mencoba-coba melanggar aturan dan agak sulit diatur, sehingga memerlukan kesabaran orang tua.
3.      Fase 0 (usia 4 tahun). Pada fase ini anak mengalami fase egosentris, di mana ia enang melanggar aturan, memarkan diri, dan memaksakan keinginan. Namun anak mudah didorong untuk berbuat baik, karena ia mengharapkan hadiah ( pujian), dan menghindari hukuman.contoh pendidikan karakter pada fase ini misalnya memberikan pujian agar anak berperilaku baik dan anda sebaiknya memberikan arahan yang jelas.
4.      Fase 1 (umur 4,5-6 tahun). Pada fase ini anak-anak lebih penurut dan bisa diajak kerja sama,agar terhindar dari hukuman orang tua. Anak sudah dapat menerima pandangan orang lain, teruma orang dewasa; bisa menghormati otoritas orang tua/guru; menganggap orang dewasa lebih tahu; senang mengadu teman-temanya yang nakal. Perlu diperhatikan jika pada fase ini perilaku anak masih seperti fase 0, maka  itu artinya karakter anak yang bersangkutan tidak optimal. Pada fase 1 ini anak-anak juga sangat mempercayai orang tua/guru, sehingga penekanan penting perilaku baik dan sopan akan sangat efektif. Namun pendidikan karakter pada fase ini harus memberi peluang pada anak untuk memahami alasan-alasanya.
5.      Fase 2 (6,5-8 tahun). Pada fase ini, anak merasa memiliki hak sebagaimana orang dewasa; tidak lagi berpikir bahwa orang dewasa bisa memerintah anak-anak; mempunyai potensi bertindak kasar akibat menurunya otoritas orang tua/guru dalam pikiran mereka; mempunya konsep keadilan yang kaku, yaitu balas-membalas.
Sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dawarsa kedua (Masnur Muslich, 2011:81)
PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER
Mendiknas mengingatnya pentingnya pengembangan karakter pribadi sebagai basis untuk mencapai sukses. Meski dianggap penting dan sering didengarkan, sampai sekarang tidak wujud nyata berupa kebijakan dalam dunia pendidikan berkaitan dengan pendidikan karakter.
Thomas lickona, seorang profesi pendidikan dari Cortland University, mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda-tanda zaman yang harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini sudah ada, berarti sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda yang dimaksud adalah (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk, (3) pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan, (4) menikatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas, (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, (6) menurunya etos kerja, (7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, (9) membudayanya ketidakjujuran, dan (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama. Jika dicermati, ternyata kesepuluh tanda zaman tersebut sudah ada di Indonesia. Selain sepuluh tanda-tanda zaman tersebut, masalah lain yang tengah dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah sistem pendidikan dini yang ada sekarang ini terlalu berorientasi pada pengembangan otak kiri (kognitif) dan kurang memperhatikan pengembangan otak kanan (afektif, empati dan rasa). Pengembangan karakter lebih berkaitan dengan optimalisasi fungsi otak kanan.
Pada sisi lain, pembentukan karakter harus dilakukan secara sistematis dan ksinambunganyang melibatkan aspek “knowledge, feeling, loving, dan action”. Sebab, pada dasarnya, anak yang berkarakter rendah adalah anak yang tingkat perkembangan emosi-sosialnya rendah sehingga anak beresiko atau berpotensi besar mengalami kesulitan dalam belajar, berinteraksi sosial dan tidak mampu mengontrol diri. Mengingat pentingnya penanaman karakter di usia dini dan mengingat usia prasekolah merupakan masa persiapan untuk sekolah yang sesungguhnya maka penanaman karakter yang baik di usia pra sekolah merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan.
Karakter dipengaruhi oleh hereditas. Perilaku seorang anak sering kali tidak jauh dari perilaku ayah dan ibunya. Dalam bahasa kwa dikenal istilah “ Kacang ora ninggal lanjaran” (Pohon kacang panjang tidak pernah meninggalkan kayu atau bambu tempatnya melilit dan menjalar). Kecuali itu lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam ikut membentuk karakter.
Pendidikan karakter telah menjadi sebuah pergerakan pendidikan yang mendukung pengembngan sosial, pengembangan emosional, dan pengembangan etika para siswa. Merupakan suatu upaya proaktif yang dilakukan baik oleh sekolah maupun pemerintah untuk membantu siswa mengembangkan inti pokok dari nilai-nilai etik dan nilai-nilai kinerja, seperti kepedulian, kejujuran, kerajinan, fairness, keuletan dan ketabahan (fortitude), tanggung jawab, menghargai diri sendiri dan orang lain (Muchlas Samani dan Hariyanto,  2011:42)
.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PENDIDIK
Dalam tinjauan ilmu akhlak diungkapkan bahwa segala tindakan dan perbuatan manusia yang memiliki corak berbeda antara satu dan lainnya, pada dasarnya merupakan akibat adanya pengaruh dari dalam diri manusia (insting) dan motivasi yang disuplai dari luar dirinya seperti milieu, pendidikan, dan aspek warotsah.
1.      Insting (naluri)
Merupakan seperangkat tabiat yang dibawa manusia sejak lahir. Para psikolog menjelaskan bahwa insting (naluri) berfungsi sebagai motivator penggertak yang mendorong lahirbya tibfgkah laku antara lai:
a.       Naluri makan (nutritive insting). Begitu manusia lahir telah membawa suatu hasrat makan tanpa didorong oleh orang lain. Buktinya begitu bayi lahir ia dapat mencari tetek ibunya dan menghisap air susu tanpa diajari lagi.
b.      Naluri berjodoh (seksual instinct), yang ditandai dengan laki-laki ingin berjodoh dengan wanita dan wanita ingin dengan laki-laki.
c.       Naluri keibubapakan (peternal instinct), yang ditandai dengan tabiat kecintaan orang tua kepada anaknya dan sebaliknya kecintaan anak kepada orang tuanya.
d.      Naluri berjuang (combative instinct), yang ditandai dengan tabiat manusia yang cenderung mempertahankan diri dari gangguan dan tantangan.
e.       Naluri ber Tuhan, yang ditandai dengan tabiat manusia mencari dan merindukan Penciptanya yang mengatur dan memberikan rahmat kepadanya.
2.     Adat / kebiasaan
Adat/kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan sesorang yang dilakukan secara berulang-ulang  dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan, seperti berpakaian, makan, tidur, dan olahraga. Anak harus dibiasakan hidup dengan akhlak dan moral yang baik sejak kecil. Oleh karena itu, orang tua, guru harus mengenalkan hal-hal yang baik pada anak agar anak lebih mengenal hal-hal yang baik dari pada hal-hal yang buruk.
3.    Keturunan 
Secara langsung atau tidak langsung keturunan sangat memengaruhi pembentukan karakter atau sikap seseorang. Keturunan sangat  berpengaruh pada keberhasilan dalam membentuk karakter anak. Karena dengan keturunan anak akan lebih cepat menangkap hal-hal yang diajarkan oleh keturunan itu. Sebab, keturunan yang paling dekat dengan sianak.
4.    Lingkungan (milieu)
Salah satu aspek yang turut memberikan saham dalam terbentuknya corak sikap dan tingkah laku seseorang adalah faktor milieu (lingkungan)  di mana seseorang berada. Lingkunga mempunya pengaruh besar setelah keluarga. Karena lingkungan yang akan membawa anak pada hal yang baik dan yang buruk. Orang tua harus jeli dalam memilih lingkungan untuk anak. Dan orang tua harus bisa membentengi anak agar anak tidak terpengaruh pada lingkunganya.

PENUTUP
Karakter pendidikan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Jika sejak dini sudah di kenalkan dengan dunia pendidikan sesuai moral dan akhlak maka anak tersebut bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk tanpa ada yang menyuruh. Sebaiknya, keluarga dan guru harus bisa mendidik anak agar berkarakter baik. Karena keluarga, lingkungan, sekolah mempunyai pengaruh besar dalam membentuk karakter anak.
Orang tua tidak membatasi anak dalam membentuk karakter anak tetapi orang tua memantau dalam pembentukan karakter anak karena anak ingin terus mengeksplor apa yang dia belum tau. Orang tua sangat mempengaruhi dalam pembentukan karakter anak. Oleh sebab itu, orang tua harus bisa membentuk karakter anak dengan baik, tidak hanya orang tua saja tetapi juga dari lingkungan yang sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter anak karena lingkunganlah yang paling dominan dari ketiga pusat pendidikan. Maka, orang tua harus memilih lingkunagan, dan sekolah yang baik sesuai karakter yang akan di bentuk oleh orang tua kepada anak-anaknya.



DAFTAR PUSTAKA


Abidin, Yunus. 2012. Pembelajaran Membaca Berbasis Pendidikan Karakter. Bandung: PT Refika Aditama.
Kesuma, Dharma, dkk. 2011. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Samami, muchlis dan Hariyanto. 2011. Konsep dan Model Pendidikan Krakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Suprayogo, Imam. 2013. Pengembangan Pendidikan Karakter. Malang: UIN Maliki Press.
Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Wiyani, Novan Ardy. 2013. Bina Karakter Anak Usia Dini. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.
Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter. Bengkulu: Kencana.





2 komentar:

  1. artikelnya sudah bagus isinya sudah sesuai. penggunaan bahasa mudah dipahami oleh pembaca..

    BalasHapus
  2. Artikelnya bagus sekali, bisa menambah wawasan dalam membentuk karakter anak, ku tunggu artikel lainnya yang bisa lebih menginspirasi.

    BalasHapus

Artikel Jurnal Imiah

PENGARUH PENDIDIKAN DALAM MEMBENTUK KARAKTER ANAK Arinal Muna Widiastuti 2021116192 zahrakinala@yahoo.com Abstrak Di...